Jumat, 23 September 2011

Etika menjenguk orang sakit


Salah satu hak sesama muslim yang mulai ditinggalkan sunnahnya, adalah etika menjenguk orang sakit. Banyak diantara kita yang melaksanakan rutinitas ini hanya karena kepentingan dunia, atau hanya sekedar melakukan adat kebiasaan yang kosong dari etika menjenguk orang sakit sesuai contoh dari Nabi e. Maka pada kesempatan kali ini kami kedepankan tema ‘Etika Menjenguk Orang Sakit’, dalam rangka nasehat sesama muslim, yang mana kami banyak mengambil faedah dari buku berjudul ‘Adab Iyadatul Maridh’ oleh Fuad Abdul Aziz Asy Syalhub, edisi Indonesia: ‘Etika Menjenguk Orang Sakit’ yang diterbitkan oleh Laraiba Bima Amanta, Surabaya. Semoga jasa-jasa mereka dibalas kebaikan yang besar oleh Allah Ta'ala, amien
Perintah Menjenguk Orang Sakit
Imam Muslim meriwayatkan sebuah Hadits dari jalan Abu Hurairah t,  bahwa Rasulullah e bersabda,
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ . قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam, kemudian Rasulullah e ditanya , apakah itu wahai Rasulullah? Beliau t menjawab, “Jika engkau berpapasan dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah (undangannya). jika ia minta nasehat kepada engkau maka nasehatilah ia. Jika ia bersin, kemudian memuji Allah, maka doakan ia dengan ‘yarhamukallah’, jika ia sakit, maka jenguklah ia dan jika ia meninggal, maka iringilah (jenazahnya).” [HR. Muslim (5778)]
Al Bara' bin Azib t meriwayatkan,
أَمَرَناَ النَّبِي صلى الله عليه و سلم بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَناَ بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ وَإِجَابَةِ الْدَاعِيْ وَنَصْرِ الْمَظْلُوْمِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلاِمِ وَتَشْمِيْتِ الْعَاطِسِ . وَنَهاَنَا عَنْ آنِيِةِ الْفِضَّةِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَالْحَرِيْرِ وَالْدِيْبَاجِ وَالْقَسِي وَالْإِسْتَبْرَقِ
“Nabi e memerintahkan kita tujuh perkara dan melarang kita tujuh perkara. Beliau e menyuruh kita untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terdhalimi, melaksanakan sumpah, menjawab salam dan mendo'akan orang yang bersin. Dan Beliau e melarang kita memakai wadah yang terbuat dari perak, cincin emas, kain sutra, sutera halus, kain bersulam sutera dan sutera tebal.” [HR. Al Bhukhari (1182)]
Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Ada banyak hadits yang menerangkan hal ini, antara lain hadits :
مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِى خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia berada di taman buah Surga sampai kembali.” [HR. Muslim (6717)]
Juga sabda Beliau e,
مَنْ عَادَ مَرِيْضاً خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ حَتَّى إِذاَ قَعَدَ اِسْتَقَرَّ فِيْهَا
“Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia telah menyelam di dalam rahmat, hingga ia duduk, maka ia tenang di dalamnya.” [HR. Al Bhukari (522) dalam Al Adabul Mufrad, Syaikh Al Albani men-shahihkan hadist ini, lihat Shahih Al Adabul Mufrad (1/185)]
Menjenguk Orang yang Pingsan atau Koma
Sebagian orang enggan menjenguk orang sakit yang tidak bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Seperti orang yang mengalami pingsan yang periodik (terus-menerus) atau koma. Alasannya, karena si sakit tidak bisa merasakan kehadirannya, maka tidak perlu untuk dikunjungi. Ini adalah pemahaman yang keliru dan argumentasi yang tidak didukung dengan dalil. Bahkan, bila mau meneliti justru dalil mengatakan yang sebaliknya, mari kita simak perkataan Jabir bin Abdillah t berikut, “Aku pernah menderita suatu penyakit, kemudian Nabi e dan Abu Bakar t datang menjengukku dengan berjalan kaki. Mereka mendapatiku dalam kondisi pingsan. Nabi e lantas berwudhu, lalu mengguyurkan air wudhunya kepadaku. Kemudian, aku sadar dan bertanya kepada Nabi e, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah aku membuat keputusan terhadap hartaku?’ Beliau e belum juga menjawab, hingga turun Ayat Mirats (warisan).” [HR. Al Bukhari (5327)]
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya. Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harapan mendapatkan berkah dari do'a penjenguk, sentuhan tangannya kepada sakit, meniupkan bacaan Surat Mu’awwidzat (Al Iklhas, Al Falaq dan An Naas).” [Fatkhul Baari (10/114)]
Menjenguk Orang Musyrik
Sebagian ulama berpendapat, bahwa menjenguk orang kafir adalah makruh. Karena, secara tidak langsung berarti sebuah penghormatan baginya. [Lihat, At Tamhid (24/276)]
Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat, bahwa menjenguk orang kafir boleh dilakukan, apabila ada harapan untuk masuk ke dalam Agama Islam. Pendapat inilah yang mendekati kebenaran, karena lebih dekat kepada perbuatan Nabi e. Anas bin Malik t meriwayatkan,
أَنَّ غُلاَماً لِيَهُوْدَ كَانَ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَعُوْدُهُ فَقَالَ ( أَسْلِمْ ) . فَأَسْلَمَ
“Bahwasannya ada seorang anak muda Yahudi pernah menjadi pembantu Nabi e. Dia sakit, lalu Nabi e datang menjenguknya. Kemudian, Beliau e bersabda kepadanya, ‘Masuk Islamlah!’ Maka, ia pun masuk Islam.” [HR. Al Bukhari (5333)]
Sa'id bin Musayyib t meriwayatkan dari ayahnya,
لَمَّا حَضَرَتْ أَباَ طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ ( قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ )
“Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian, Rasulullah e mendatanginya seraya bersabda, ‘Ucapkanlah laa ilaaha illa-llaah, sebuah kalimat yang bisa aku jadikan hujjah (pembela) untukmu di sisi Allah!’.” [HR. Al Bukhari (6303)]
Waktu Menjenguk Orang Sakit
Tidak ada riwayat dari Nabi e yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk, atau mengunjungi orang sakit. Jika demikian adanya, maka menjenguk orang sakit boleh dilakukan kapan saja, siang, maupun malam, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya. Sebab, salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberikan dukungan moral, bukan malah merepotkannya. Waktu menjenguk yang tepat berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. Boleh jadi suatu saat berkunjung di malam hari lebih baik dari pada siang hari, ataupun mungkin sebaliknya.
Al Mawarzi rahimahullah mengatakan, “Aku pernah menjenguk orang sakit bersama Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal) di malam hari. Dan kebetulan pada waktu itu Bulan Ramadhan. Kemudian, dia berkata kepadaku, ‘Di Bulan Ramadhan (sebaiknya) orang sakit dijenguk di malam hari.” [Al Adabusy Syar'iyah (2/190)]
Begitu pula sebaiknya, tidak menjenguk orang sakit pada Waktu Dhuhur, karena biasanya manusia istirahat. Al Atsram rahimahullah meriwayatkan, bahwa Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal) pernah diberitahu, ‘Si fulan sakit,’ dan ketika itu matahari sudah tinggi di musim panas. Maka beliau mengatakan, “Ini bukan waktu yang tepat untuk menjenguk orang sakit.” [Al Adabusy Syar’iyah (2/190)]
Mempersingkat Waktu Kunjungan
Orang yang menjenguk orang sakit hendaknya tidak terlalu lama berada di tempat Si Sakit, karena Si Sakit sedang menderita dengan rasa sakit dan penderitaan yang di alaminya. Sehingga, bila penjenguk berlama-lama di sisinya, bisa membebani pikirannya, bahkan menambah penderitaannya. Oleh karena itu, sebaiknya tidak berlama-lama tatkala menjenguk saudara kita yang sakit. Ibnu Thawus rahimahullah mengatakan, bahwa ayahnya pernah berkata, “Sebaik-baiknya kunjungan kepada orang sakit adalah yang paling singkat.”
Asy Sya’bi rahimahullah juga berkata, “Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga Si Sakit dari pada sakitnya salah satu anggota keluarga mereka. Yaitu, orang-orang yang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.” [Lihat, At Tamhid, Ibnu Abdil Bar (24/277)]
Namun perlu diketahui, bahwa apabila Si Sakit menyukai, jika dijenguk lama-lama, atau ia ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya Si Penjenguk mengabulkan keinginannya. Sebab, berarti hal tersebut memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepadanya. Hal itu pernah dilakukan Nabi e kepada Sa'ad bin Mu'adz t suwaktu ia menjadi korban Perang Khandaq. Nabi e memerintahkan, supaya ia dibuatkan kemah di dalam Masjid Nabawi agar Beliau e bisa menjenguknya dari dekat. Dan shahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi e dan dikunjungi Beliau e berulang kali. [Lihat, Shahih Al Bukhari (463)]
Posisi Duduk Penjenguk
Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan duduk dekat dengan Si Sakit. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi e dan juga orang-orang shalih sesudahnya. Anas bin Malik t meriwayatkan, “Ada seorang anak muda Yahudi yang menjadi pembantu Nabi e. Anak muda itu jatuh sakit, kemudian Nabi e datang menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya. Lalu bersabda kepadanya, ‘Masuk Islamlah!’ Anak tadi lantas memandang kepada bapaknya yang berada di sisinya. Kemudian Sang Ayah berkata, ‘Patuhilah Abul Qasim!' Maka, ia pun masuk Islam. Lalu, Nabi e keluar seraya berucap, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari Api Neraka.” [HR. Al Bukhari (1356)]
Ibnu Abbas t pernah mengatakan, “Adalah Nabi e ketika menjenguk orang sakit, Beliau e duduk di sisi kepalanya,” [HR. Al Bukhari di dalam Al Adabul Mufrod (536) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]
Duduk di sisi kepala Si Sakit mengandung beberapa faedah, diantaranya :
a.        Memberikan rasa akrab kepada Si Sakit;
b.       Memungkinkan untuk menyentuh Si Sakit, kemudian mendo'akannya atau meruqyahnya.
Menanyakan Keadaan Si Sakit dan Memberikan Harapan Sembuh
Ketika menjenguk orang yang sakit, maka sebaiknya menanyakan tentang keadaannya, sebagaimana yang dilakukan 'Aisyah y. Dia berkata,
لَمَّا قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم الْمَدِيْنَةَ وُعِكَ أَبُو بَكْرٍ وَبِلاَلٌ قَالَتْ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِمَا فَقُلْتُ يَا أَبَتِ كَيْفَ تَجِدُكَ وَيَا بِلَالُ كَيْفَ تَجِدُكَ
“Tatkala Rasulullah e tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, ‘Aisyah y berkata, ‘Akupun menemui mereka berdua dan bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu, Wahai Bapakku?’ ‘Bagaiman keadaanmu, Wahai Bilal?’. [HR. Al Bukhari (3711)]
Ibnu Mas’ud t meriwayatkan,
دَخَلْتُ عَلَى النَّبِي صلى الله عليه و سلم وَهُوَ يُوْعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدَيَّ فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوْعَكُ وَعْكاً شَدِيْداً قَالَ ( أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ ) . قَالَ لَكَ أَجْرَانِ ؟ قَالَ ( نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذَى مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ سَيِّئآتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا )
“Aku masuk menemui Nabi e sementara Beliau e sedang menderita demam. Maka, akupun menyentuhnya dengan tanganku, lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya engkau sedang tertimpa demam yang berat.’ Beliau e menjawab, ‘Benar, sebagaimana demamnya dua orang di antara kalian.’ Ibnu Mas’ud t bertanya, ‘Apakah Engkau mendapatkan dua pahala?’ Beliau e menjawab, ‘Ya, tidaklah seorang muslim terkena suatu penyakit, atau yang semisalnya, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana sebuah pohon menggugurkan daunnya.” [HR. Al Bukhari (5343)]
Do’a-do’a Ketika Menjenguk Orang Sakit
Ketika menjenguk orang sakit hendaknya tidak mengatakan, kecuali yang baik. Sebab, para malaikat mengamini apa yang diucapkannya. Hal itu dinyatakan secara tegas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah y, dia mengatakan, bahwa Rasulullah e bersabda,
إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
“Jika kalian menjenguk orang sakit, atau ta’ziyah jenazah, maka berkatalah yang baik-baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian katakan.” [HR. Muslim (2168)]
Nabi e mengajarkan beberapa do'a yang patut kita amalkan sewaktu kita menjenguk orang sakit, diantaranya adalah :
a.        Mengucapkan : (لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ)
Ibnu Abbas y meriwayatkan,
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم دَخَلَ عَلىَ أَعْرَابِيٍّ يَعُوْدُهُ قَالَ وكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيْضٍ يَعُوْدُهُ قَالَ لَهُ ( لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ )
“Bahwasannya Nabi e menjenguk orang badui yang sedang sakit. Ibnu Abbas y berkata dan Nabi e ketika menjenguk orang sakit mengatakan,Tidak apa-apa, insya Allah menjadi pembersih dosa-dosa.” [HR. Al Bukhari (5332)]

b.       Membaca doa : (اللَّهُمَّ اشْفِ فُلاَناً), yang artinya, ‘Ya Allah, sembuhkanlah fulan (sebut nama Si Sakit)’
Do’a ini disebutkan dalam hadits riwayat Sa'ad bin Abi Waqash t, sewaktu dirinya sakit dan dijenguk Rasulullah e. Dalam hadits tersebut disebutkan,
ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِيْ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى وَجْهِيْ وَبَطْنِيْ ثُمَّ قَالَ ( اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْداً)
“Kemudian Beliau e meletakkan tangannya di atas keningnya, lalu mengusapnya pada wajah dan perutnya, kemudian berdo’a, Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad.” [HR. Al Bukhari (5335)]
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا ». ثَلاَثَ مِرَارٍ
“Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad, sembuhkanlah Sa'ad (3 kali).” [HR. Muslim (4302)]

c.        Membaca do’a : (أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ) (7 kali)
مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ إِلاَّ عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ
“Barangsiapa menjenguk orang sakit yang belum mendekati ajalnya, lalu membaca membaca do’a,Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik Arsy Yang Agung, agar Dia menyembuhkanmu dari penyakitmu.’ (7 kali) Niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakitnya tadi.” [HR. Abu Dawud (3108), Hadits ini Shahih, Shahih Abi Dawud (2663)]

d.       Membaca do'a : (اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا أَوْ يَمْشِى لَكَ إِلَى جَنَازَةٍ)
Nabi e bersabda,
إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا أَوْ يَمْشِى لَكَ إِلَى جَنَازَةٍ
“Jika seseorang menjenguk orang sakit, hendaknya dia berdo’a, ‘Ya Allah, sembuhkanlah hambamu-ini, dia melukai musuh karena-Mu dan berjalan mengiringi jenazah, karena-Mu.’.” [HR. Abu Dawud (3109), Shahih, Lihat Shahih Abi Dawud (2664)]
Demikian sedikit uraian tentang Adab-adab dan Tatacara Menjenguk Orang Sakit, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk hamba-Nya yang mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan, amien
Ibnu Ram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar