Sabtu, 29 Oktober 2011

Penyembelihan Hewan Kurban (bag. 2)

UDHIYAH TERBAIK DAN YANG MAKRUH
       Urutan keutamaan dalam penyembelihan hewan kurban dari yang paling utama kemudian yang keutamaannya lebih rendah darinya adalah sebagai berikut :
1.     Unta jika disembelih tanpa diserikatkan dengan orang lain
2.     Sapi jika disembelih tanpa diserikatkan dengan orang lain
3.     Domba
4.     Kambing
5.     Unta yang diserikatkan oleh tujuh orang
6.     Sapi yang diserikatkan oleh tujuh orang
       Yang afdhol pada hewan sembelihan kurban adalah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan untuk hewan ternak. Di antaranya adalah yang gemuk, dagingnya banyak, bentuknya bagus, dan mahal harganya.
       Adapun hewan ternak yang makruh untuk dijadikan udhiyah di antaranya adalah :
1.     Hewan yang terpotong telinganya atau tanduknya. Adapun hewan yang memang tidak memiliki tanduk sejak asalnya  maka boleh untuk dijadikan udhiyah tanpa dimakruhkan.

Penyembelihan Hewan Kurban (bag. 1)

Berkenaan dengan akan datangnya hari raya Idul Adha, pada edisi kali ini kami membahas beberapa hal berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban (udhiyah). Semoga Alloh senantiasa memberikan taufiq kepada kita untuk ikhlas dalam mengerjakan amalan-amalan yang diridhoi-Nya dan untuk berpegang teguh dengan sunnah-sunnah Nabi-Nya.

PENGERTIAN UDHIYAH
        Udhiyah adalah nama untuk hewan baik onta, sapi, atau kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh disebabkan karena datangnya hari raya idul adha.

Kamis, 27 Oktober 2011

Keutamaan 10 Hari bulan Dzulhijjah

Di antara karunia yang Alloh berikan kepada para hamba-Nya adalah Ia telah menjadikan musim-musim ketaatan. Di mana mereka bisa memperbanyak amalan sholih dan berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara musim-musim tersebut adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Rosululloh Shalallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa hari-hari tersebut adalah hari terbaik di dunia dan beliau menganjurkan untuk memperbanyak amalan sholih di dalamnya.

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJAH
  1. Alloh ta’ala telah bersumpah dengannya.
Hal ini menunjukkan tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah karena Dzat Yang Maha Agung tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung pula.
Alloh  berfirman :
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْر (2)  (الفجر : 1-2)
Artinya : “Demi fajar, dan malam yang sepuluh,”  (QS Al Fajr: 1-2)
Yang dimaksud dengan layalil ‘asyr (malam yang sepuluh) dalam ayat tersebut adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijah. Ini  adalah pendapat jumhur ahli tafsir.
Ibnu Katsir berkata : “Layalin ‘Asyr adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan selainnya dari kalangan  salaf dan kholaf”   (Tafsir Ibnu Katsir (4/539)

Jumat, 30 September 2011

Bekal Kampung Akherat

 

Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, nikmat yang begitu banyak, dimana sampai sekarang masih kita rasakan. Apabila kita menghitung nikmat tersebut, niscaya kita tidak akan mampu. Allah berfirman,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوهَا
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. (QS. Ibrahim, 34)

Perlu diketahui juga, bahwa semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita akan dimintai pertanggungjawaban, tidaklah kita diberi nikmat dan menggunakan nikmat tersebut dengan berfoya-foya, serta bermegah-megahan melainkan untuk ketaatan kepada Allah semata dengan mengerjakan semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya.

ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian, kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takaatsur, 8)

Sabtu, 24 September 2011

Tujuh Unsur Yang Menunjang Belajar



Pada tulisan sebelumnya telah kita jelaskan tentang Kaedah Umum dalam Belajar, pada tulisan kali ini akan kita jelaskan tentang hal-hal yang bisa menunjang belajar. Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan unsur-unsur penting yang menunjang proses belajar. Tanpa memperhatikan dan melaksanakan unsur-unsur tersebut, barangkali cita-cita untuk menjadi seorang yang berilmu hanya tinggal angan-angan belaka. Diantara unsur-unsur penting tersebut adalah :
Unsur Pertama : Meluruskan Niat
Seorang penuntut ilmu harus meluruskan niatnya terlebih dahulu, karena dengan niat yang lurus, maka Allah akan memberkati ilmunya dan memudahkannya di dalam proses belajar, sebaliknya seseorang yang salah niat dalam belajar, maka ilmunya tidak akan berkah dan amalannya tidak diterima oleh Allah. Maka, betapa ruginya para penuntut ilmu yang salah niat. Dalam suatu hadist disebutkan :
عن كعب بن مالك رضى الله عنه قال : (( سـمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من طلب العلم ليجارى به العلماء ، أو ليمارى به السفهاء ، أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار )) رواه أبو داود
“Dari Ka’ab bin Malik bahwasanya dia berkata : Saya telah mendengar Rosulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda : ( Barang siapa yang belajar dengan tujuan untuk mendebat para ulama, atau mempermainkan orang-orang bodoh, atau untuk mencari pengikut, niscaya Allah akan memasukkannya kepada api neraka ) ( HR. Abu Daud )

Kaidah Umum Dalam Belajar



Sebelum memulai belajar, seorang penuntut ilmu hendaknya memahami dengan baik- baik kaidah- kaidah yang diletakkan oleh para ulama untuk menjadi bekal para penuntut ilmu.
Kaidah –kaidah kalau dipegang teguh dan dihayati, insya Allah akan banyak membantu para penuntut ilmu di dalam mencapai cita-cita mereka
Diantara kaidah- kaidah tersebut adalah sbb :
Kaidah Pertama :
العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيه كلك
“Ilmu itu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya, sehingga engkau memberikan kepadanya semua yang engkau miliki”.
Artinya, bahwa seorang penuntut ilmu jika berniat untuk mempelajari suatu ilmu, mestinya ia berani dan siap mengorbankan segala yang dimiliknya, dari harta, waktu, tenaga. Kemudian, seandainya dia sudah mengorbankan yang dia miliki tersebut untuk mendapatkan ilmu, maka belum tentu dia mampu meraih semua ilmu yang ada. Dan selama-lamanya dia tidak akan mampu menguasai seluruh ilmu tersebut, kecuali hanya sebagiannya saja.